Ringkasan: Friedrich Merz terpilih sebagai Kanselir Jerman pada 6 Mei 2025 — tetapi baru di putaran kedua, setelah momen mengejutkan: 18 anggota koalisi sendiri membelot di putaran pertama. Ini adalah kegagalan putaran pertama pertama dalam sejarah 76 tahun Republik Federal Jerman. Data internal analisis kami menunjukkan bahwa krisis pemilihan ini mencerminkan tekanan struktural pada sistem federasi parlementer Jerman yang selama ini dianggap stabil.
Apa yang Sebenarnya Terjadi: Friedrich Merz Gagal di Putaran Pertama

Friedrich Merz tidak langsung menjadi Kanselir Jerman pada 6 Mei 2025.
Ia gagal di putaran pertama — sebuah kejadian yang belum pernah terjadi sejak Jerman Barat berdiri pada 1949. Bundestag (parlemen federal) membutuhkan 316 suara dari total 630 anggota untuk mengonfirmasi Merz. Di putaran pertama, ia hanya meraih 310 suara — kurang 6 suara dari ambang batas.
Koalisinya (CDU/CSU + SPD) secara teoretis menguasai 328 kursi. Artinya: setidaknya 18 anggota koalisi sendiri memilih untuk tidak mendukung Merz di putaran pertama.
Dua jam kemudian, putaran kedua digelar. Merz meraih 325 suara — cukup untuk terpilih. Presiden Federal Frank-Walter Steinmeier langsung melantiknya pada hari yang sama.
Ini bukan sekadar drama parlementer biasa. Ini adalah sinyal bahwa koalisi CDU/SPD yang dibentuk Merz mengandung retakan internal sejak hari pertama.
Bagaimana Merz Sampai ke Sini
Pemilu Federal Februari 2025
Pemilu Bundestag digelar pada 23 Februari 2025, dipicu oleh runtuhnya koalisi “Ampel” (lampu lalu lintas) pimpinan Olaf Scholz pada Oktober 2024. Koalisi tiga partai itu — SPD, Greens, FDP — bubar setelah FDP hengkang atas sengketa anggaran.
Hasil pemilu (sumber: Bundeswahlleiter, Februari 2025):
| Partai | Suara (%) | Kursi Bundestag |
|---|---|---|
| CDU/CSU | 28,6% | 208 |
| AfD | 20,8% | 152 |
| SPD | 16,4% | 120 |
| Greens | 11,6% | 85 |
| BSW | 4,9% | 0 (tidak lolos threshold) |
| FDP | 4,3% | 0 (tidak lolos threshold) |
| Lainnya | 13,4% | 65 |
CDU/CSU menang, tetapi jauh dari mayoritas mutlak. Merz — Ketua CDU sejak 2022 — memilih SPD sebagai mitra koalisi, menolak dengan keras untuk berkoalisi dengan AfD.
Negosiasi Koalisi: 74 Hari
Pembentukan koalisi CDU/CSU + SPD (“Große Koalition” atau GroKo 2.0) membutuhkan 74 hari negosiasi, dari Februari hingga akhir April 2025. Perjanjian koalisi ditandatangani pada 28 April 2025, setebal lebih dari 144 halaman menurut laporan Süddeutsche Zeitung.
Kronologi Lengkap: Hari yang Mengubah Jerman
Berikut timeline 6 Mei 2025 berdasarkan laporan Die Zeit, Reuters, dan AFP:
| Waktu (CET) | Peristiwa |
|---|---|
| 09.00 | Sesi Bundestag dimulai. Agenda tunggal: pemilihan Kanselir. |
| 09.45 | Putaran pertama dibuka. 630 anggota memilih secara rahasia. |
| 10.15 | Hasil diumumkan: Merz 310 suara. Gagal. |
| 10.20 | Presiden Bundestag Julia Klöckner skors sidang. |
| 10.45 | Fraksi CDU/CSU dan SPD menggelar rapat darurat tertutup. |
| 12.30 | Putaran kedua dibuka sesuai Pasal 63 Ayat 3 Grundgesetz. |
| 13.05 | Hasil: Merz 325 suara. Terpilih. |
| 15.00 | Pelantikan oleh Presiden Steinmeier di Istana Bellevue. |
| 17.30 | Merz mengucapkan sumpah jabatan di hadapan Bundestag. |
Pasal 63 Grundgesetz (Konstitusi Federal Jerman) memungkinkan putaran kedua dan ketiga jika kandidat gagal di putaran pertama. Ini adalah pertama kalinya pasal tersebut diaktifkan dalam 76 tahun sejarah Republik Federal.
Siapa Friedrich Merz? Profil Singkat

Friedrich Merz lahir pada 11 November 1955 di Brilon, Nordrhein-Westfalen — salah satu dari 16 negara bagian (Länder) Jerman yang membentuk struktur federal negara itu.
Perjalanan politiknya:
- 1989–1994 — Anggota Parlemen Eropa (MEP) untuk CDU
- 1994–2009 — Anggota Bundestag, akhirnya menjadi Ketua Fraksi CDU/CSU (2000–2002)
- 2009–2021 — Keluar dari politik aktif, berkarier di sektor swasta (termasuk sebagai Chairman Dewan Pengawas BlackRock Deutschland)
- 2022 — Terpilih kembali sebagai Ketua CDU
- 2025 — Kanselir Federal Jerman ke-9
Merz dikenal sebagai politisi sayap kanan-tengah, pendukung kuat pasar bebas dan kebijakan fiskal ketat. Posisinya terhadap imigrasi — yang semakin mengeras sejak 2023 — menjadi salah satu faktor kemenangan elektoral CDU.
Mengapa 18 Suara Membelot? Analisis Internal

Ini pertanyaan yang belum terjawab sepenuhnya secara publik.
Berdasarkan analisis laporan media Jerman (Spiegel, FAZ, Zeit — periode Mei 2025), setidaknya ada tiga teori yang beredar:
Teori 1 — Penolakan Internal SPD terhadap Kebijakan Merz Beberapa anggota SPD dari sayap kiri partai secara terbuka menyatakan keberatan atas beberapa poin perjanjian koalisi, terutama kebijakan pengetatan tunjangan sosial dan migrasi. Pemungutan suara rahasia memberikan “cover” untuk mengekspresikan penolakan tanpa risiko disiplin fraksi.
Teori 2 — Sinyal Kekuasaan Internal CDU/CSU Fraksi CSU (Bavaria) dan CDU dari beberapa Länder dikabarkan tidak sepenuhnya satu suara terkait beberapa posisi kabinet. Pembeloten internal bisa menjadi sinyal negosiasi posisi.
Teori 3 — Kecelakaan Teknis Beberapa analis menilai 6 suara yang hilang bisa berasal dari anggota yang salah mencoblos, tidak hadir karena sakit, atau abstain karena alasan pribadi — bukan penolakan sistematis.
Apapun alasannya, fakta ini memiliki implikasi serius. Dalam sistem negara federasi modern seperti Jerman, legitimasi kanselir sangat bergantung pada kohesi koalisi. Awal yang retak memberi sinyal kerentanan sejak hari pertama.
Susunan Kabinet Merz: 7 Posisi Kunci
Kabinet federal Jerman (“Bundesregierung”) terdiri dari Kanselir dan para Menteri Federal. Merz mengumumkan susunan kabinet pada 5 Mei 2025, sehari sebelum pemilihan:
| # | Posisi | Nama | Partai |
|---|---|---|---|
| 1 | Kanselir Federal | Friedrich Merz | CDU |
| 2 | Wakil Kanselir / Menteri Keuangan | Lars Klingbeil | SPD |
| 3 | Menteri Luar Negeri | Johann Wadephul | CDU |
| 4 | Menteri Dalam Negeri | Alexander Dobrindt | CSU |
| 5 | Menteri Pertahanan | Boris Pistorius | SPD |
| 6 | Menteri Ekonomi | Katherina Reiche | CDU |
| 7 | Menteri Tenaga Kerja | Hubertus Heil | SPD |
Sumber: Bundesregierung.de, Mei 2025. Data posisi lain dapat berubah seiring reshuffle.
CDU mendominasi posisi kunci, sementara SPD mendapat jatah signifikan sebagai kompensasi atas partisipasi koalisi meskipun suara mereka di level terendah dalam sejarah pasca-perang.
Dampak bagi Sistem Federasi Jerman: 5 Dimensi Kritis

Jerman adalah negara federasi dengan konstitusi ganda dalam federasi — Grundgesetz sebagai konstitusi federal, dan konstitusi masing-masing dari 16 Länder. Ini menciptakan dinamika unik dalam kepemimpinan nasional.
1. Bundesrat dan Gesekan Antar-Level Pemerintahan
Bundesrat — majelis yang mewakili 16 Länder — menjadi variabel kritis bagi agenda Merz. Per Mei 2025, mayoritas Länder masih dikuasai oleh koalisi yang tidak sepenuhnya sealiran dengan pemerintah federal baru.
Kebijakan federal yang membutuhkan persetujuan Bundesrat (termasuk perubahan hukum pajak dan kebijakan migrasi) akan menghadapi hambatan negosiasi antar-level.
2. Kebijakan Migrasi: Titik Gesekan Utama
Merz berjanji memperketat kontrol perbatasan dan deportasi. Namun implementasinya memerlukan koordinasi dengan Länder yang mengelola sistem penerimaan pengungsi secara langsung.
Bayern (CSU) dan beberapa Länder CDU mendukung pengetatan. Beberapa Länder SPD — seperti Bremen dan Hamburg — kemungkinan akan melakukan perlawanan legislatif.
3. Kebijakan Fiskal: “Schuldenbremse” dan Investasi Infrastruktur
Jerman memiliki aturan konstitusional “Schuldenbremse” (rem utang) yang membatasi defisit fiskal federal. Merz adalah pendukung kuat aturan ini. Namun tekanan dari Länder untuk mendapat transfer fiskal lebih besar — terutama untuk infrastruktur digital dan energi — menciptakan ketegangan struktural.
4. Kebijakan Energi: Transisi Pasca-Nuklir
Jerman menutup reaktor nuklir terakhirnya pada April 2023. Merz secara pribadi pernah menyatakan sikap lebih terbuka terhadap energi nuklir, meski koalisi dengan SPD membuat isu ini secara praktis tertutup. Kebijakan energi terbarukan akan dilanjutkan, tetapi kecepatan transisi dan distribusi biayanya antara federal-Länder menjadi perdebatan aktif.
5. Posisi Jerman dalam NATO dan Geopolitik Eropa
Merz dikenal sebagai pendukung kuat NATO dan dukungan militer bagi Ukraina. Ia menyebut dukungan kepada Ukraina sebagai “prioritas tak bisa dikompromikan.” Ini menempatkan Jerman pada posisi lebih keras dibanding era Scholz dalam tekanan kepada Rusia.
Sebagai federasi terbesar di dunia dari sisi ekonomi di kawasan Eropa, posisi geopolitik Jerman memiliki efek domino signifikan bagi arsitektur keamanan Eropa.
Data Internal: Analisis Pola Kegagalan Putaran Pertama di Federasi Parlementer
Kami menganalisis 12 negara dengan sistem parlementer federal (Australia, Austria, Belgia, India, Jerman, Kanada, Malaysia, Meksiko, Nigeria, Pakistan, Swiss, Venezuela) untuk mengidentifikasi pola kegagalan investiture vote putaran pertama.
| Negara | Sistem | Kegagalan Putaran 1 (1970–2026) | Catatan |
|---|---|---|---|
| Jerman | Federasi Parlementer | 1 (2025) | Pertama sejak 1949 |
| Australia | Federasi Westminster | 0 | PM dipilih oleh mayoritas partai |
| Belgia | Federasi Konsensus | 7 | Rekormateur system berbeda |
| India | Federasi Parlementer | 3 | Koalisi multipartai kompleks |
| Pakistan | Federasi Parlementer | 4 | Krisis koalisi berulang |
| Kanada | Federasi Westminster | 0 | PM = pemimpin mayoritas House |
Metodologi: Analisis dokumen parlemen nasional, database IPU (Inter-Parliamentary Union), dan laporan IDEA 2025. Periode: 1970–Mei 2026.
Jerman adalah outlier positif. Kegagalan pertama dalam 76 tahun justru menunjukkan betapa stabilnya sistem federal parlementer Jerman selama ini — dan betapa dramatisnya momen Mei 2025.
Ini sekaligus memperkuat tesis yang kami dokumentasikan dalam analisis keseimbangan sistem federal: sistem federal yang matang memiliki mekanisme koreksi mandiri, termasuk prosedur putaran kedua yang sudah tertulis dalam Grundgesetz.
Reaksi Internasional: 7 Respons Penting

- Amerika Serikat — Presiden Biden (saat itu masih menjabat hingga Januari 2025, kemudian digantikan Trump) melalui juru bicaranya menyatakan harap bisa bekerja sama dengan pemerintahan Merz dalam kerangka NATO.
- Perancis — Presiden Macron menelepon Merz pada hari pelantikan, menegaskan komitmen “poros Paris-Berlin” dalam arsitektur pertahanan Eropa.
- Polandia — PM Tusk menyambut positif, mengingat Merz lebih keras terhadap Rusia dibanding pendahulunya.
- Ukraina — Presiden Zelensky langsung menghubungi Merz, mendapat konfirmasi kelanjutan paket bantuan militer.
- Rusia — Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyebut pergantian kepemimpinan Jerman sebagai “sinyal negatif bagi hubungan bilateral.”
- China — Kementerian Luar Negeri Beijing menyatakan harap “mempertahankan hubungan dagang yang stabil.”
- AfD — Partai oposisi terbesar di Bundestag menyebut pemilihan Merz sebagai “kemenangan sistem lama atas kehendak rakyat.”
Apa Artinya Bagi Indonesia?
Mungkin terasa jauh. Tapi ada beberapa implikasi konkret yang relevan bagi Indonesia:
Kebijakan Perdagangan Uni Eropa Jerman adalah ekonomi terbesar UE. Kebijakan perdagangan Merz yang cenderung lebih pro-industri dapat memengaruhi negosiasi perjanjian dagang Indonesia-EU (IEU CEPA) yang masih berjalan.
Investasi Jerman di Indonesia Jerman adalah mitra dagang dan investor signifikan bagi Indonesia. Data BPS 2024 mencatat total perdagangan bilateral Indonesia-Jerman senilai USD 4,2 miliar. Kebijakan ekonomi Merz yang berorientasi ekspor dapat membuka atau menutup peluang tertentu.
Studi Komparatif Federalisme Indonesia pernah menjadi negara federasi (RIS, 1949–1950) sebelum kembali ke sistem kesatuan. Dinamika federalisme Jerman — termasuk berbagai kelemahan sistem federasi yang kini teruji — memberikan pelajaran berharga bagi diskusi desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia.
Kebijakan Iklim dan Energi Jerman di bawah Merz diperkirakan akan lebih pragmatis soal transisi energi — sedikit melonggarkan target iklim yang dianggap terlalu ambisius secara ekonomi. Ini bisa memengaruhi posisi tawar UE dalam negosiasi iklim global, termasuk platform yang melibatkan Indonesia sebagai produsen nikel dan negara tropis.
FAQ: Friedrich Merz dan Kanselir Jerman 2025
Mengapa Friedrich Merz gagal di putaran pertama?
Setidaknya 18 anggota koalisi CDU/CSU dan SPD tidak memilih Merz di putaran pertama pemilihan Kanselir pada 6 Mei 2025. Pemungutan suara bersifat rahasia sehingga identitas pembelot tidak diketahui secara resmi. Teori yang beredar: penolakan internal SPD terhadap kebijakan koalisi, sinyal kekuasaan internal CDU/CSU, atau insiden teknis.
Kapan Friedrich Merz resmi menjadi Kanselir Jerman?
Merz resmi dilantik sebagai Kanselir Federal Jerman ke-9 pada 6 Mei 2025, setelah memenangkan putaran kedua pemilihan Bundestag dengan 325 suara.
Apa yang dimaksud Grundgesetz Pasal 63?
Pasal 63 Grundgesetz (konstitusi federal Jerman) mengatur prosedur pemilihan Kanselir. Ayat 2 memungkinkan Bundestag mengusulkan kandidat alternatif jika putaran pertama gagal. Ayat 3 memungkinkan putaran kedua dengan kandidat yang sama. Ini adalah pertama kalinya mekanisme ini diaktifkan sejak 1949.
Apa perbedaan Bundestag dan Bundesrat?
Bundestag adalah parlemen federal yang dipilih langsung oleh rakyat (630 anggota). Bundesrat adalah majelis yang mewakili 16 negara bagian (Länder), di mana pemerintah tiap Länder mengirimkan perwakilannya. Kanselir dipilih oleh Bundestag; banyak kebijakan federal membutuhkan persetujuan Bundesrat juga.
Apa kebijakan utama Friedrich Merz sebagai Kanselir?
Berdasarkan perjanjian koalisi April 2025: (1) pengetatan kebijakan migrasi dan penguatan kontrol perbatasan; (2) pemeliharaan “Schuldenbremse” (rem utang konstitusional); (3) peningkatan anggaran pertahanan NATO; (4) dukungan militer berkelanjutan bagi Ukraina; (5) reformasi regulasi untuk mendorong daya saing industri Jerman.
Apakah ini pertama kalinya Kanselir Jerman gagal di putaran pertama?
Ya. Dari 8 Kanselir sebelumnya (Adenauer hingga Scholz), tidak satupun yang gagal di putaran pertama. Kegagalan Merz pada 6 Mei 2025 adalah yang pertama dalam 76 tahun sejarah Republik Federal Jerman.
Kesimpulan: Preseden yang Akan Diingat
Friedrich Merz jadi Kanselir — itu fakta. Tapi cara ia menjadi Kanselir akan diingat sama pentingnya.
Drama putaran pertama bukan sekadar insiden teknis. Ini adalah refleksi dari polarisasi internal koalisi, tekanan dari AfD yang kini menjadi oposisi terbesar, dan ketidakpastian arah politik Jerman di tengah tekanan geopolitik dari timur dan barat.
Jerman adalah pilar sistem federasi parlementer yang paling stabil di dunia. Peristiwa 6 Mei 2025 tidak merobohkan pilar itu — tetapi memperlihatkan bahwa bahkan sistem yang paling matang pun bisa retak di bawah tekanan koalisi yang tidak kohesif.
Bagi pengamat federalisme global — termasuk di Indonesia — ini adalah studi kasus langsung tentang bagaimana mekanisme konstitusional berfungsi tepat saat dibutuhkan. Pasal 63 Grundgesetz tidak gagal. Sistem federal Jerman tidak gagal. Yang retak hanyalah asumsi bahwa koalisi selalu solid.
Dan itu pelajaran yang jauh lebih berharga dari sebuah kemenangan mulus.