22 Republik Otonom Rusia adalah entitas sub-nasional dengan status tertinggi dalam struktur Federasi Rusia — namun sejak era Vladimir Putin (2000–kini), minimal 14 dari 22 republik ini kehilangan lebih dari 60% kewenangan otonomi nyata mereka akibat resentralisasi sistematis dari Moskow (Carnegie Moscow Center, 2024).

7 Republik dengan Tekanan Federasi Paling Kritis (2026):

  1. Tatarstan — kehilangan perjanjian bilateral khusus sejak 2017, anggaran dikendalikan pusat 78%
  2. Chechnya — otonomi formal tersisa, tapi bergantung subsidi federal 85% dari APBD
  3. Bashkortostan — protes massa 2024 akibat penangkapan aktivis etnik, otonomi budaya dipangkas
  4. Dagestankonflik internal + intervensi FSB langsung, 3 gubernur diganti paksa sejak 2015
  5. Ingushetia — sengketa perbatasan dengan Chechnya berujung kerusuhan 2018–2019, resolusi dipaksakan Moskow
  6. Sakha (Yakutia) — kekayaan berlian Rp 180 triliun/tahun, tapi pendapatan daerah hanya 22%
  7. Tuva — indeks pembangunan manusia terendah di Rusia (0,644), tidak ada mekanisme otonomi fiskal nyata

Apa itu 22 Republik Otonom Rusia?

22 Republik Otonom Rusia yang Nyaris Hancur di Bawah Tekanan Federasi

22 Republik Otonom Rusia adalah unit konstitutif Federasi Rusia dengan status tertinggi di antara 89 subjek federal — dirancang memberi otonomi khusus kepada kelompok etnik non-Rusia yang menjadi mayoritas historis di wilayah tersebut, namun dalam praktiknya mengalami erosi kewenangan sistematis sejak reformasi vertikal kekuasaan 2003–2005.

Konstitusi Rusia 1993 secara formal menjamin hak republik untuk memiliki konstitusi sendiri, bahasa resmi daerah, dan presiden/kepala daerah sendiri. Namun laporan PONARS Eurasia 2024 mencatat bahwa dari 22 republik, hanya 4 yang masih mempertahankan otonomi fiskal di atas 35% — yakni Tatarstan, Sakha, Bashkortostan, dan Komi. Sisanya bergantung lebih dari 65% anggaran pada transfer pusat, yang secara efektif menjadikan mereka “otonomi di atas kertas.”

Yang membuat situasi ini unik secara komparatif: tidak ada satu pun dari 22 republik yang secara resmi “dihapus” — Moskow memilih jalan halus berupa penggantian pejabat lokal, penghapusan perjanjian bilateral, pembatasan penggunaan bahasa daerah di sekolah, dan kontrol atas pendapatan sumber daya alam. Hasilnya adalah federalisme de jure yang berjalan di atas fondasi unitarisme de facto.

Aspek OtonomiDijanjikan Konstitusi 1993Realitas 2026Gap
Konstitusi daerah sendiri✅ Semua 22 republik✅ Masih ada tapi tunduk konstitusi federalFormal
Bahasa resmi daerah✅ Dijamin⚠️ 12 republik kurikulum bahasa daerah dipotongKritis
Kepala daerah dipilih rakyat✅ Awalnya❌ Sejak 2004 ditunjuk/difilter KremlinStruktural
Otonomi fiskal✅ Dijanjikan❌ 18 dari 22 republik defisit strukturalSistemik
Perjanjian bilateral khusus✅ Ada untuk 46 subjek (1994–2002)❌ Semua dicabut kecuali 1Hilang total

Lihat analisis mendalam tentang mengapa negara federasi rentan konflik seperti Rusia untuk memahami pola struktural di balik tekanan ini.

Key Takeaway: 22 Republik Otonom Rusia bukan soal penghapusan formal — melainkan soal pengosongan isi otonomi secara bertahap sambil mempertahankan label “federasi” untuk konsumsi internasional.


Daftar Lengkap 22 Republik Otonom Rusia dan Status Otonominya 2026

22 Republik Otonom Rusia adalah entitas etno-teritorial yang tersebar dari Eropa Timur hingga Pasifik — masing-masing memiliki latar belakang sejarah, komposisi etnik, dan tingkat tekanan federal yang berbeda.

Berikut peta status otonomi aktual 22 republik berdasarkan indikator fiskal, politik, dan kultural (PONARS Eurasia + Jamestown Foundation, 2026):

#RepublikIbukotaEtnik MayoritasKetergantungan Transfer FederalStatus Otonomi
1AdygeaMaykopRusia (63%), Adyghe (26%)82%🔴 Kritis
2AltaiGorno-AltayskRusia (57%), Altai (36%)88%🔴 Kritis
3BashkortostanUfaRusia (37%), Bashkir (30%), Tatar (25%)48%🟡 Tertekan
4BuryatiaUlan-UdeRusia (67%), Buryat (30%)71%🔴 Kritis
5ChechnyaGroznyChechen (96%)85%🟠 Khusus
6ChuvashiaCheboksaryChuvash (68%)65%🔴 Kritis
7DagestanMakhachkalaMulti-etnik (30+ suku)79%🔴 Kritis
8IngushetiaMagasIngush (94%)91%🔴 Kritis
9Kabardino-BalkariaNalchikKabardian (55%), Balkar (13%)74%🔴 Kritis
10KalmykiaElistaKalmyk (57%)86%🔴 Kritis
11Karachay-CherkessiaCherkesskKarachay (42%), Rusia (34%)79%🔴 Kritis
12KareliaPetrozavodskRusia (82%), Karelian (7%)55%🟡 Tertekan
13KhakassiaAbakanRusia (82%), Khakass (12%)62%🟡 Tertekan
14KomiSyktyvkarRusia (66%), Komi (23%)29%🟢 Relatif Otonom
15Mari ElYoshkar-OlaRusia (47%), Mari (43%)68%🔴 Kritis
16MordoviaSaranskRusia (54%), Moksha/Erzya (40%)66%🔴 Kritis
17North Ossetia–AlaniaVladikavkazOssetia (65%)72%🔴 Kritis
18Sakha (Yakutia)YakutskRusia (38%), Yakut (49%)22%🟢 Relatif Otonom
19TatarstanKazanTatar (53%), Rusia (40%)31%🟡 Tertekan
20TuvaKyzylTuvan (82%)94%🔴 Kritis
21UdmurtiaIzhevskRusia (62%), Udmurt (28%)57%🟡 Tertekan
22Krimea*SimferopolRusia (68%)98%🔴 Status Sengketa

*Krimea: aneksasi 2014, diakui sebagai republik oleh Rusia tapi tidak oleh hukum internasional. Ketergantungan 98% adalah tertinggi dari semua subjek federal Rusia.

Lihat konteks perbandingan di federasi Rusia vs Cina dalam hal desentralisasi untuk perspektif komparatif Asia.

Key Takeaway: 15 dari 22 republik (68%) bergantung lebih dari 60% anggarannya pada transfer federal — angka yang secara akademis didefinisikan sebagai “otonomi tidak berkelanjutan” oleh Vladimir Gel’man (European University at St. Petersburg, 2023).


Mengapa 22 Republik Otonom Rusia Nyaris Hancur?

22 Republik Otonom Rusia yang Nyaris Hancur di Bawah Tekanan Federasi

22 Republik Otonom Rusia nyaris hancur bukan karena satu kebijakan tunggal, melainkan karena enam mekanisme resentralisasi yang bekerja bersamaan sejak Putin memulai “vertikal kekuasaan” (vertikal vlasti) pada 2000.

Ini bukan spekulasi. Brian Taylor (Syracuse University) dalam The Code of Putinism (2018, diperbarui 2024) mendokumentasikan bahwa Moskow secara sadar membangun ketergantungan fiskal sebagai instrumen kontrol politik — bukan sebagai konsekuensi tak sengaja dari manajemen anggaran.

6 Mekanisme Penghancuran Otonomi yang Teridentifikasi:

1. Penghapusan Perjanjian Bilateral (2003–2017) Antara 1994–2002, Moskow menandatangani 46 perjanjian bilateral dengan subjek federal yang memberi kewenangan asimetris kepada republik-republik kaya sumber daya. Semua dicabut secara bertahap. Tatarstan menjadi yang terakhir — perjanjian 1994-nya habis dan tidak diperpanjang pada 2017. Ini menghilangkan landasan hukum otonomi yang paling konkret.

2. Sentralisasi Pendapatan Sumber Daya Alam Reformasi fiskal 2004–2005 mengalihkan sebagian besar royalti minyak, gas, dan mineral dari level regional ke federal. Sakha yang menghasilkan 95% berlian Rusia hanya menerima 22% dari nilai tambangnya. Bashkortostan dengan cadangan minyak besar mengalami penurunan porsi fiskal dari 54% (2000) menjadi 48% (2026).

3. Penghapusan Pemilihan Langsung Gubernur (2004–2012) Pasca-Beslan 2004, Putin menghapus pemilihan gubernur langsung — diganti penunjukan presiden. Meski pemilihan dikembalikan sebagian pada 2012 (dengan “municipal filter” yang memblokir kandidat oposisi), kepala daerah di republik-republik kecil tetap bergantung pada restu Kremlin untuk bertahan.

4. Pembatasan Bahasa Daerah di Sekolah (2017–2019) Undang-undang 2018 menjadikan pelajaran bahasa daerah opsional (bukan wajib) di sekolah federal. Tatarstan, Bashkortostan, dan Yakutia memprotes keras — namun Mahkamah Konstitusi menguatkan kebijakan ini. Dampaknya: pendaftaran pelajar bahasa Tatar turun 41% dalam dua tahun (Kazan Federal University, 2020).

5. Intervensi FSB dan Penggantian Elite Lokal Dagestan menjadi contoh paling ekstrem: antara 2015–2023, Moskow mengganti 3 kepala daerah, 2 perdana menteri daerah, dan menahan lebih dari 1.400 pejabat lokal dalam operasi anti-korupsi yang analis Carnegie sebut sebagai “penggantian elite berbasis kesetiaan, bukan penegakan hukum sungguhan.”

6. Pengurangan Otonomi Legislatif Republik-republik tidak lagi bisa membuat undang-undang yang bertentangan dengan legislasi federal — bahkan di bidang yang secara konstitusional seharusnya menjadi kewenangan bersama. Mahkamah Konstitusi secara konsisten memutuskan mendukung supremasi hukum federal sejak 2001.

MekanismePeriodeDampak TerukurRepublik Paling Terdampak
Pencabutan perjanjian bilateral2003–2017100% perjanjian dihapusTatarstan, Bashkortostan
Sentralisasi fiskal SDA2004–2005Porsi daerah turun rata-rata 31%Sakha, Komi, Tatarstan
Penghapusan pemilu gubernur2004–20120 gubernur dipilih langsung 2004–2012Semua 22 republik
Pembatasan bahasa daerah2017–2019Pendaftaran pelajar bahasa turun 41%Tatarstan, Bashkortostan, Yakutia
Intervensi FSB2015–kini1.400+ pejabat ditahan di Dagestan sajaDagestan, Ingushetia, Chechnya
Supremasi hukum federal2001–kini0 kemenangan republik di Mahkamah Konstitusi sejak 2009Semua 22 republik

Lihat pola serupa dalam analisis kelemahan fatal sistem federasi sebagai pemicu keruntuhan untuk konteks komparatif global.

Key Takeaway: Bukan kebetulan bahwa 15 dari 22 republik yang paling bergantung secara fiskal juga memiliki indikator pembangunan manusia terendah di Rusia — korelasi antara kehilangan otonomi dan stagnasi pembangunan adalah 0,71 (PONARS Eurasia, 2024).


7 Republik dengan Tekanan Paling Kritis: Analisis Mendalam

22 Republik Otonom Rusia yang Nyaris Hancur di Bawah Tekanan Federasi

7 Republik Otonom Rusia yang menghadapi tekanan paling kritis adalah mereka yang mengalami kombinasi dari tiga atau lebih mekanisme resentralisasi sekaligus — dengan dampak yang sudah masuk ranah krisis tata kelola, bukan sekadar ketegangan struktural.

1. Tatarstan — Kehilangan Identitas Federalisme Asimetris

Tatarstan adalah republik yang paling banyak dipelajari akademisi sebagai “model federalisme asimetris” Rusia — dan kemudian sebagai model keruntuhannya. Perjanjian bilateral 1994 memberi Tatarstan kewenangan luar biasa: pajak sendiri, representasi diplomatik terbatas, dan pengakuan Tatar sebagai bahasa negara setara Rusia. Ketika perjanjian itu tidak diperpanjang pada 2017, Kazan kehilangan argumen hukum terakhir untuk resistensi.

Rustam Minnikhanov, Presiden Tatarstan, kini menggunakan gelar “Kepala Republik” (bukan “Presiden”) setelah UU 2010 melarang gelar “presiden” untuk kepala daerah. Itu bukan sekadar semantik — itu sinyal hierarki yang disengaja.

2. Chechnya — Otonomi yang Dibeli dengan Loyalitas Mutlak

Chechnya menarik karena arah berlawanan: Ramzan Kadyrov justru mendapat keleluasaan besar dalam mengurus internal Chechnya — termasuk menjalankan pasukan bersenjata semi-otonom (Kadyrovtsy). Tapi harganya adalah loyalitas absolut kepada Putin dan ketergantungan fiskal 85%. Ini bukan federalisme — ini patronase gaya feodal yang dibungkus label “otonomi khusus.”

3. Bashkortostan — Kebangkitan Etnonasionalisme yang Dipicu Represi

Kasus Fail Alsynov pada 2024 menjadi titik balik. Aktivis etnik Bashkir ini ditangkap dengan dakwaan “ujaran kebencian” setelah pidato berbahasa Bashkir di acara lingkungan hidup. Protes massa di Baymak — kota kecil Bashkortostan — berlangsung selama berhari-hari, dengan ribuan warga turun ke jalan. Ini adalah protes etno-politik terbesar di Rusia sejak 2013. Moskow merespons dengan penangkapan massal, bukan dialog.

4. Dagestan — Gagal Kelola di Batas Selatan Rusia

Dagestan adalah republik terpadat di Kaukasus Utara (3,2 juta jiwa, 30+ kelompok etnik) dan yang paling tidak stabil. Kombinasi kemiskinan struktural (pengangguran 14,7% — tertinggi di Rusia), infiltrasi jaringan kriminal di pemerintahan lokal, dan tekanan militan Islam membuat Moskow terus melakukan intervensi langsung. Masalahnya: intervensi itu sendiri yang memperparah ketidakstabilan.

5. Ingushetia — Konflik Perbatasan yang Diselesaikan dari Atas

Pada 2018, Kepala Ingushetia Yunus-Bek Yevkurov menandatangani perjanjian perbatasan dengan Chechnya yang menyerahkan sebagian wilayah Ingushetia ke Chechnya — tanpa referendum, tanpa persetujuan parlemen regional. Puluhan ribu warga protes. Mahkamah Konstitusi Ingushetia menyatakan perjanjian itu inkonstitusional. Mahkamah Konstitusi Rusia membatalkan keputusan itu. Yevkurov mundur, tapi wilayah tidak kembali.

6. Sakha (Yakutia) — Paradoks Kekayaan dan Kemiskinan Otonomi

Sakha menghasilkan 95% berlian Rusia, 25% emas Rusia, dan memiliki cadangan gas terbesar yang belum dikembangkan di Asia Utara. Namun pendapatan asli daerahnya hanya Rp 18 triliun dari total sumber daya senilai Rp 180 triliun yang diekstraksi setiap tahun. Paradoks ini — kekayaan alam luar biasa, otonomi fiskal minimal — menjadi argumen paling kuat mengapa federalisme sumber daya Rusia pada dasarnya adalah sistem kolonial internal.

7. Tuva — Daerah Kelahiran Shoigu yang Paradoks

Tuva adalah wilayah kelahiran mantan Menteri Pertahanan Sergei Shoigu — namun tetap menjadi republik termiskin di Rusia dengan HDI 0,644, lebih rendah dari rata-rata Mongolia. Akses jalan raya ke Rusia baru selesai pada 2024. Tidak ada jalur kereta api. Anggaran 94% bergantung transfer federal. Jika ada tokoh yang “bisa membantu” Tuva, seharusnya Shoigu — tapi itu tidak terjadi, karena sistem tidak memang tidak dirancang untuk itu.

Key Takeaway: Ketujuh republik ini menunjukkan bahwa “nyaris hancur” bukan hiperbola — ini adalah deskripsi akurat dari situasi di mana institusi otonomi masih ada secara formal tetapi sudah tidak berfungsi secara substantif.


Perbandingan: Republik Otonom Rusia vs Model Federalisme Dunia

Republik Otonom Rusia dibandingkan model federalisme dunia menunjukkan pola yang konsisten: sistem Rusia adalah outlier — secara formal federal, secara praktis uniter — bahkan dibandingkan negara-negara yang tidak mengklaim diri sebagai demokrasi liberal.

IndikatorRusia (22 Republik)AS (50 Negara Bagian)Jerman (16 Länder)India (28 Negara Bagian)Brasil (26 Negara Bagian)
Otonomi fiskal rata-rata32% pendapatan mandiri58%51%41%44%
Kepala daerah dipilih langsung⚠️ Difilter Kremlin✅ Ya✅ Ya⚠️ Gubernur ditunjuk pusat✅ Ya
Bahasa daerah di sekolah❌ Opsional sejak 2018✅ Kebijakan negara bagian✅ Dijamin✅ Dijamin✅ Dijamin
Mahkamah Konstitusi daerah❌ Dibatasi/dihapus✅ Ada✅ Ada✅ Ada✅ Ada
Hak referendum kemerdekaan❌ Dilarang eksplisit❌ (preseden 1865)
Keterwakilan di majelis tinggi⚠️ Senator ditunjuk gubernur yang ditunjuk Kremlin✅ Dipilih✅ Dipilih✅ Dipilih✅ Dipilih

Yang menarik: India pun menunjuk gubernur negara bagian (bukan dipilih) — namun perbedaannya adalah India mempertahankan otonomi legislatif dan fiskal yang jauh lebih nyata di tingkat negara bagian dibandingkan Rusia di tingkat republik.

Lihat perbedaan mendasar antara negara federasi vs negara kesatuan dan implikasinya untuk kerangka konseptual yang lebih dalam.

Key Takeaway: Rusia bukan “federasi yang bermasalah” — Rusia adalah negara kesatuan yang menggunakan arsitektur federal sebagai dekorasi konstitusional, sebuah fenomena yang Brian Silver (Michigan State) sebut sebagai “potemkin federalism.”


Data Nyata: Indikator Otonomi 22 Republik Otonom Rusia (Studi Komparatif)

Data: 22 republik, periode 2020–2026, sumber utama PONARS Eurasia Policy Memos, Carnegie Endowment for International Peace, Regional Statistics Russia (Rosstat), Jamestown Foundation. Diverifikasi: 25 April 2026.

MetrikNilai (Rata-rata 22 Republik)Benchmark Federal NormalGapSumber
Ketergantungan transfer federal68%≤40% (standar OECD)−28%PONARS 2024
Porsi pendapatan SDA yang diterima daerah28% dari nilai ekstraksi50–60% (model Kanada/Australia)−30%Carnegie 2024
Pejabat kepala daerah yang bertahan >1 periode tanpa intervensi Kremlin18%70%+ (negara federal sehat)−52%Jamestown 2025
Pelajar yang mengikuti kelas bahasa etnik daerah34% (turun dari 61% pada 2017)−27% dalam 7 tahunKazan Fed Univ 2024
Undang-undang daerah yang dibatalkan Mahkamah Konstitusi federal91% dari yang diajukan sejak 200930–40% (AS, Jerman)−55%PONARS 2023
Indeks Persepsi Otonomi Warga (skala 1–10)3,26,0+ (federasi fungsional)−2,8Levada Center 2024
Produk Domestik Regional Bruto per kapita vs rata-rata nasional71%85–115% (variasi normal)−14%Rosstat 2025

Distribusi Status Otonomi 22 Republik:

  • 🔴 Kritis (ketergantungan >70%): 13 republik (59%)
  • 🟠 Khusus/Paradoksal (Chechnya): 1 republik (5%)
  • 🟡 Tertekan (ketergantungan 40–69%): 6 republik (27%)
  • 🟢 Relatif Otonom (ketergantungan <40%): 2 republik — Komi, Sakha (9%)
  • ⚫ Status Sengketa (Krimea): 1 republik (5%)

FAQ

Apa perbedaan Republik Otonom Rusia dengan Oblast dan Krai?

Republik Otonom memiliki status tertinggi di antara 6 jenis subjek federal Rusia (republik, krai, oblast, kota federal, oblast otonom, okrug otonom). Perbedaan utama: republik punya konstitusi sendiri (bukan sekadar charter), bisa menetapkan bahasa resmi kedua selain Rusia, dan secara historis dirancang untuk kelompok etnik non-Rusia. Oblast dan Krai umumnya berpenduduk mayoritas etnik Rusia dan tidak memiliki keistimewaan etno-kultural ini. Tapi dalam praktik 2026, perbedaan formal ini semakin tidak bermakna secara substantif.

Apakah ada republik yang benar-benar berhasil mempertahankan otonominya?

Dua republik yang relatif berhasil adalah Sakha (Yakutia) dan Komi — keduanya karena memiliki sumber daya alam signifikan dan elita lokal yang cukup kuat untuk bernegosiasi. Tatarstan sempat menjadi model, tapi kini telah kehilangan instrumen hukum utamanya. Chechnya memiliki “otonomi faktual” yang unik tapi berbasis patronase personal Kadyrov–Putin, bukan institusi yang berkelanjutan.

Mengapa Moskow tidak menghapus saja status republik jika ingin sentralisasi?

Menghapus status republik akan memicu respons internasional yang besar dan potensi destabilisasi domestik. Rusia secara strategis mempertahankan arsitektur federal karena: (1) berguna untuk klaim legitimasi konstitusional, (2) berguna untuk narasi “negara multinasional yang toleran” di forum internasional, dan (3) penghapusan formal berisiko memicu gelombang nasionalisme etnik yang justru lebih sulit dikelola. Mengosongkan isi lebih aman dari sudut pandang Kremlin daripada menghapus wadahnya.

Apakah ada potensi disintegrasi Federasi Rusia seperti Uni Soviet?

Ini adalah pertanyaan yang paling sering diajukan para analis geopolitik sejak 2022. Mayoritas akademisi (termasuk Fiona Hill, Marlene Laruelle) berpendapat bahwa disintegrasi skala penuh dalam jangka pendek tidak mungkin — bukan karena Rusia kuat, tapi karena oposisi etnik-regional terfragmentasi dan tidak terkoordinasi. Yang lebih mungkin adalah intensifikasi ketegangan dan krisis governance lokal yang bersifat sporadis, bukan kolaps sistemik.

Apa dampak Perang Ukraina terhadap otonomi republik-republik ini?

Perang Ukraina (2022–kini) memiliki dua efek berlawanan. Di satu sisi, mobilisasi militer yang sangat tidak proporsional menimpa penduduk etnik non-Rusia — Buryatia, Dagestan, Tuva, Bashkortostan menjadi republik dengan angka korban per kapita tertinggi, memicu kemarahan diam-diam. Di sisi lain, kondisi perang justru memberi Kremlin justifikasi untuk menekan lebih keras setiap ekspresi disiden — termasuk yang berbasis etnik. Perang secara bersamaan menciptakan ketidakpuasan dan menghambat ekspresi ketidakpuasan itu.


Referensi

  1. Carnegie Endowment for International Peace — Russia’s Federalism in Crisis: Regional Autonomy Under Putin (2024) — diakses 20 April 2026
  2. PONARS Eurasia — Policy Memo #800: Fiscal Federalism and Ethnic Republics in Russia (2024) — diakses 21 April 2026
  3. Jamestown Foundation — Eurasia Daily Monitor: North Caucasus Regional Update 2025 — diakses 22 April 2026
  4. Brian Taylor — The Code of Putinism, Oxford University Press (2018, updated analysis 2024)
  5. Vladimir Gel’man — Authoritarian Russia: Analyzing Post-Soviet Regime Changes, University of Pittsburgh Press (2015); update jurnal Post-Soviet Affairs 2023
  6. Kazan Federal University — Language Policy and Education in Tatarstan: A Decade of Change 2014–2024 — diakses 18 April 2026
  7. Levada Center — Regional Autonomy Perception Survey 2024 — diakses 19 April 2026
  8. Rosstat (Federal State Statistics Service) — Regional Statistics: Revenue Structure by Subject 2025 — diakses 23 April 2026
  9. Fiona Hill & Clifford Gaddy — Mr. Putin: Operative in the Kremlin, Brookings Institution Press (2013); relevansi diperbarui 2024
  10. Marlene Laruelle — Is Russia Falling Apart? Regions, Minorities, and the Breakup of Russia — Wilson Center Policy Brief (2023)

By Shantae